Senin, 23 Mei 2011

Surat Menyurat vs Smartphone


Hari sabtu siang , sedang asik asiknya bersihin kamar....

Hmmm... Oke saya ralat , bersihin kamar itu ga asik. 

Jadi pas lagi bersihin kamar tiba-tiba ketemu seonggok album perangko.

Astagaaa..... Saya baru ingat , ternyata waktu kecil dulu punya hobi filateli , mengoleksi perangko dari berbagai daerah dan negara dengan tahun pembuatan yang sangat beragam. Sampai-sampai ada yang terbuat pada tahun 1960 dan tertulis di situ    " republique du mali " , saya juga bingung dulu dapetnya gimana dan bahkan saya ga tau mali itu dimana, semacam di Timbuktu kayaknya ya ? 
Tapi yang jelas dulu saya sering bertukar perangko , entah sama saudara , tetangga ataupun teman sepermainan. 

Bahkan dulu saya pernah jadi “babu” sehari untuk teman saya karena dia janji mau memberikan perangko special edition ikon olahraga rugby dari Amerika . 
Setelah seharian jadi asisten , pada sore harinya saya diberikan perangko biasa .  

Temen saya bilang gini , " Kata bapakku ,  perangko yang dari Amerika ga boleh dikasih orang ". 

Damn you, Dick (eh ini saya bukan ngomong kotor loh ya , temen saya namanya dicky)


Kembali ke cerita awal,  sembari membolak balik halaman album perangko tiba2 terlintas betapa perangko ini sudah terlindas oleh kemajuan teknologi.
salah satu halaman di album perangko saya

Di jaman yang semodern ini , surat menyurat menggunakan perangko via kantor pos menjadi prioritas terakhir dalam menjalin komunikasi. 

Kenapa? Ribeeeet, cing...... 

Harus beli kartu pos dan perangko , belum lagi menulis pesan dengan pulpen. Aaah di era serba “klik” , hal seperti ini dianggap membuang-buang waktu dan tidak ekonomis. 

Ya harga perangkonya saja  lebih mahal dibandingkan dengan mengirim 1 sms tarif normal , belum lagi kalau ada gratisan sms. 

Apa harus kantor pos juga harus ikut-ikutan memberi promo ? 

Beli 5 kartu pos gambar apa saja , gratis 1 perangko edisi justin bieber ? 

Ah tetap tidak menarik buat saya... 

Saya kan sukanya SM*SH. 

Apalagi sama bisma.

Uh unyu unyu gimana gitu. 

Behel-an pula. 

OKAAY STOP IT !!


Eh tapi di samping keribetannya itu , surat menyurat ala nenek moyang kita itu punya nilai lebih tersendiri lho , tulisan tangan itu sangat bisa menggambarkan perasaan dan menjaga keintiman antara si pengirim dan penerima surat. 
Hal ini karena tulisan tangan merupakan hasil karya cipta manusia yang sangat “complex” , dan karena alasan ini juga sehingga sampai saat ini tanda tangan masih dijadikan alat verifikasi yang umum pada sebuah perjanjian ataupun tanda hak milik.
 
Nilai lebih yang lain mungkin surat menyurat ini bisa lebih menguji dan melatih kesabaran kita. 
Tanpa sadar atau tidak disadari , jaman serba cepat ini telah merubah perangai kita. 

Mau contoh ? 

YM-an nge-lag dikit karena sinyal down, rasanya udah kayak sakaratul maut ,

SMS-an belom delivered , gelisahnya sampe keluar keringet dingin , malah mirip kayak gejala demam berdarah ,

atau BBM-an pending dikit aja udah ngamuk-ngamuk ga karuan apalagi kalau yang kena pending itu pasangan yang sedang menjalani long distance relationship.
Walaaaah , cilaka dua belas itu ,  bisa putus seketika karena dikira lagi macem-macem (maaf kalo curcol).

Jadi penasaran deh kalau gaya pacaran jaman sekarang di bawa ke jaman baheula dulu , gimana ya..

Surat dari cowok : " Halo adinda gadis libra , apa kabar dikau di sana? Udah maem? Maem apa? "

.....3 hari kemudian......

Surat dari cewek : " Hai  abang perjaka leo , adik baik-baik saja , udah maem juga. 
3 hari yang lalu , adik maem sayur bening , abang maem apa?

.....3 hari berikutnya......

Surat dari cowok : " Spada adinda , abang 3 hari yang lalu maem ikan bandeng enak deh... "

.....5 hari berikutnya......

Surat dari cewek : " Halo abang , kok suratnya baru sampai sekarang ya ? Biasanya kan 3 hari , ini kok 5 hari... Oh mungkin pak posnya lagi sakit ya , Bang. Kita doakan saja cepat sembuh sehingga cinta kita bisa tersambung lancar kembali..."

Dan seterusnya , akhirnya mereka menikah dan bahagia selamanya.


Naaah loh... Enak banget kan , liat percakapannya ?
Ga ada marah marahan karena pending , kalau marah pun , selang 3 hari juga udah reda marahnya , mungkin karena ini juga hubungan percintaan orang dulu lebih awet dan abadi dibanding orang sekarang.

Tapi apa daya.....
Kurang lebih 40 tahun setelah Sir Rowland Hill menciptakan perangko. Pada 1876 Alexander Graham Bell dengan nistanya dengan jeniusnya , menciptakan telepon yang terus berevolusi hingga sekarang dan menyebabkan pergeseran gaya hidup. 
Gaya hidup yang terlalu praktis , modern dan tidak sehat.

Ilustrasi : bila ada 3 orang kerabat pengguna smartphone ataupun Blackberry sedang makan bersama, niscaya akan sibuk dengan gadget masing-masing.
  
Thank you Alex , terima kasih sudah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

*ngepost postingan trus lanjut mainin smartphone*

-selesai-