Minggu, 20 Februari 2011

The Art of Stupidity

Berawal dari rencana ke jakarta pada hari sabtu pagi untuk menghadiri pernikahan seorang teman SMA di hari minggunya. 

Pada jumat malam tepatnya jam 20.00 , gue memutuskan buat beli bakpia sebagai buah tangan buat temen-temen di jakarta. Berbekal motor , helm dan duit seadanya (tanpa dompet , HP , stnk , sim) gue memacu laju kendaraan gue menuju pusat oleh-oleh di jogja. Sesampainya di sana , gue berbincang-bincang akrab dengan mbak penjual , perbincangan pun dimulai.

Mbak penjual (MB) : ” Mau cari apa , mas ? ”.

Gue (G) :  “ Cari gara-gara ” *sembari mengeluarkan golok.

MB:  “ Toloong , ada perampok ganteeng , ambil hati sayaaa , maas ”.

(sesaat kemudian mbak penjual menyadarkan gue dari imajinasi liar nan tak terkendali)

MB: “ Mas mas ,mau beli apa , mas ? ”.

G: “ Ooh iya mbak , bakpianya ada ? yang keju dan coklat ”.

MB: “ Ada mas , dicoba dulu ” , seraya menawarkan sample bakpia.

G: “ Hemm enaak ya ” sambil ngunyah tiada henti.

MB: “ Mau beli berapa mas ? ”.

G: “ Beli empat , mbak , E M P A T ” , sambil mengeluarkan duit dengan posisi menyawer , menandakan gue mau beli , ga cuma mau ngunyah sample.

MB: “ Iya , bayar di kasir ya mas ”.

Tiba-tiba gue ditarik oleh bapak-bapak yang seperti dari daerah Indonesia timur , pokoknya mukanya hitam sangar , badannya besar dan hidungnya lebar.

Pak Hitam (PH) : “ Apa ini? ”,  menyodorkan produk toko oleh-oleh itu.

G: “ Itu yangko , pak ”  *gigi gemeletuk.

PH: “ Apa rasanya ? ” , makin tinggi nada suaranya.

G: “ Manis , pak , terbuat dari kelapa dan gula ” *mulai pengen pipis.

PH: “ Enak kah ? ” , suaranya meninggi menuju 8 oktaf.

G: “ Kalo suka manis , enak , pak ” *suara makin pelan.

PH: “ Ooh , saya beli bakpia saja , mana yang enak ? ”.

G: “ Ini enak , pak ” menyodorkan bakpia merk tertentu.

PH: “ Kumbu itu apa ? ”, bertanya setelah melihat tulisan di kotak bakpia yang gue sodorkan tadi.

G: “ Hah ? ” astagaaa... mati gue , ternyata gue menyodorkan kotak yang salah , karna gue sendiri ga tau apa arti kumbu itu.

G: “ Oooh , kumbu itu kacang tanah , pak ” *nada sotoy* , “ itu ada juga rasa yang lain kok , pak ”sambil gue menunjuk rak bakpia yang rada jauh tempatnya.

PH:  “Oooh ”, sibuk melihat-lihat rak bakpia yang lain.

Seketika itu pula gue lari ke kasir buat bayar belanjaan gue tadi. Gue takut sama bapak tadi , perangainya aneh banget seperti tingkah serigala lapar melihat babi gemuk.

Sampai di kasir ternyata uang yang gue bawa , P A S banget sama harga bakpia 4 kotak. Gue ga ambil pusing , toh gue cuma mau beli bakpia ini aja. Lalu gue berjalan ke parkiran motor.

“ ASTAJIIIIIIIIIM ”, gue sedikit berteriak karna melihat papan besar bertuliskan

PARKIR MOBIL =2000 // PARKIR MOTOR= 1000 // PARKIR SEPEDA = 500

Di kantong gue bener-bener ga ada sepeser pun duit , mau nelpon temen , ga bawa hp.

“ Mati gue ”, kata kata ini terus gue ucapkan berulang-ulang sebanyak 33 kali , kali aja ada pak haji lewat , gue dikira lagi zikir , terus gue dikasi duit *oke ini pikiran liar banget, tapi gue bener bener mikir gitu saat itu*

Tiba-tiba.... triiiing..... light bulb.. gue punya ide..

Gue tadi berhasil mengalihkan perhatian si pak hitam , masa tukang parkir yang ga hitam , ga bisa gue alihkan juga perhatiannya. hemm okeee kita lihat , ras mana yang berkuasa di muka bumi ini. Apakah ras tukang parkir atau ras pengalih perhatian seperti gue....

Gue mulai dengan siul-siul sambil mondar mandir sembari melirik ke arah pak parkir.

DAMN , malah makin diliatin , karna gelagat gue emang lebih mirip maling helm , ketimbang turis domestik yang lagi melancong.

Strategi harus gue ubah. Gue pun berpura-pura melihat keramaian yang ada , melihat jalanan yang ramai , lalu sok berjalan menuju arah hotel terdekat padahal gue mencari tempat sembunyi.

“ Haha ketipu lo , gue tunggu lo lengah ” kata gue dalam hati.

5 menit berlalu = pak parkir masih berjaga di parkiran.

10 menit = mulai menarik duit orang yang parkir di situ.

15 menit = malah duduk di atas motor gue.

20 menit = dia pergi memarkir mobil yang letaknya 50 meter dari parkiran motor.

YAK INI CELAH YANG HARUS GUA AMBIL.

Gue lari sprint dengan awalan start jongkok ke arah motor dan langsung pake helm.. nyalain motor...ngebuttt..

“ HOOoooooIIIIiiiiii ”, suara sayup-sayup yang ternyata pak parkir teriak sambil mengejar.

Gw makin ngebut, hilang dari pandangan. Sesampai di rumah , gue masuk kamar dan kunci pintu.

Gue takut ada polisi dobrak rumah gue dan mengenakan gue pasal belapis dengan rincian menipu konsumen perihal arti kata “ kumbu ” dan  tidak membayar parkir , ancaman kurungan 3 bulan dan denda 3 juta. Jujur gue belom siap untuk menerima semua itu. *pliis dong deh*

" GUE MENAAAANG, RAS GUE LEBIH UNGGUUUL " teriak sambil mengangkat bungkusan bakpia sembari mengeluarkan air mata haru , layaknya pemenang academy award sebagai best actor. 

Tetapi disela selebrasi kemenangan gue , gue menyadari sesuatu hal. Kadang memang kebodohan yang kita buat , membuat kita berfikir lebih keras dan berfikir kreatif , ini yang gue anggep sebagai seni. Seni berfikir  untuk memecahkan masalah yang kita hadapi akibat dari kebodohan tersebut.

Bahkan dari kebodohan atau kesalahan pun kita bisa mengambil manfaat. Membuat kita belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama serta belajar berkepala dingin untuk menyelesaikan suatu masalah yang kadang tak terduga.

“ Kesalahan adalah guru yang terbaik ”  -pesan bijak di tiap halaman buku tulis sinar dunia-

[PS: Sampai tulisan ini di posting , gue masi belom nemu arti kata " kumbu ". Mohon maaf dan harap maklum.]

-selesai-

6 komentar:

  1. kumbu itu kacang ijoooo
    lo utang sama si tukang parkir. kasian tauuukkk!

    BalasHapus
  2. @adeparamitha ; okee makasiiih ade buat infonya.. haha, ah tukang parkir jg ga markirin, cm main sempritan doang,, haha

    BalasHapus
  3. paaakkk polisi...
    ini pak,brario paaakkkkk

    BalasHapus
  4. @maskarina : ah kemaren gw liat berita, kasusnya sudah di peti es-kan kok ris,. jd gw tenang,. sudah tidak diusut,. yg gw khawatir malah, ntar di indonesia timur sana, arti kumbu tuh kacang tanah, bukan kacang ijo kyk kata ade,. haha

    BalasHapus
  5. asemmmm,,koe ternyata sing ra byar parkir kae??
    aq je kae tukang parkire,,*eh

    BalasHapus
  6. @kesana kemari : oooh kowe tho tukang parkire, pantes koyoke kenal.. hahaha

    BalasHapus